ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Latte Factor Pengaruhi Minat Investasi Properti Kaum Milenial

Kamis , 31 Oktober 2019 | 13:50
Latte Factor Pengaruhi Minat Investasi Properti Kaum Milenial
Latte factor dan milenial (Net)

JAKARTA, ARAHPROPERTI.COM - Seorang pakar keuangan bernama David Bach mengungkapkan temuannya, bahwa saat ini masyarakat, khususnya anak muda, lebih menikmati kongkow alias ngopi bareng bersama rekan kerja sebaya dan doyan mengunjungi tempat-tempat tertentu atau traveling. Kegemaran ini mempengaruhi keputusan mereka untuk berinvestasi properti.

Kepraktisan misalnya dengan pesan makanan tinggal klik via aplikasi lalu diantar walaupun jauh dari rumah maupun kantor, pesan transportasi online untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, menjadi alasan untuk tidak berpikir 'menetap' di satu tempat tinggal pribadi.

Hal inilah yang disebut Bach sebagai Latte Factor. Istilah yang mengacu kepada pengeluaran kecil tidak penting yang bisa ditiadakan namun rutin dilakukan sehari-hari ini, diperkenalkan Bach dalam serangkaian seri bukunya.

Latte Factor tidak hanya mengenai kopi yang kini semua orang berlomba-lomba untuk berjualan di setiap sudut kota, namun juga berbagai pengeluaran lainnya yang tidak disadari seperti membeli air mineral kemasan, belanja cemilan, biaya transfer antar bank hingga biaya top-up uang elektronik.

Latte factor memang lebih banyak menjangkiti kaum milenial, generasi yang sudah terbiasa dengan kecanggihan teknologi lalu diikuti semakin mudahnya berbagai akses kebutuhan hidup melalui gadget menjadikan mereka lebih gampang mengeluarkan uang hanya untuk eksistensi di media sosial, ikut-ikutan tren atau memuaskan nafsu belanja yang disesali kemudian.

“Latte Factor bisa muncul dengan mudah hanya karena kebiasaan, tekanan sosial hingga kontrol diri yang lemah. Tanpa disadari latte factor menggerogoti penghasilan hingga sulit untuk menabung apalagi berinvestasi,” kata Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia dalam keterangannya yang dikutip media.

Sebagai bagian dari investasi jangka panjang, properti tampaknya belum tertanam dalam pola pikir maupun mindset generasi milenial bahwa tidak hanya berfungsi sebagai instrumen investasi namun juga kebutuhan pokok.

Dengan banyaknya latte factor hingga faktor lainnya seperti tren traveling dengan tujuan eksplorasi berbagai tempat selagi muda semakin menjauhkan generasi milenial dari motif memiliki rumah.

Berdasarkan house price to annual income ratio atau harga rumah berbanding pendapatan per tahun, harga properti yang sebaiknya dibeli maksimal 3 (tiga) kali dari penghasilan tahunan.

Melihat hal tersebut, Grant Thornton Indonesia menyarankan untuk temukan apa saja latte factor Anda, mulai dengan catat pengeluaran harian sejak mulai beraktivitas dan telusuri apa saja pengeluaran yang tidak penting, lalu lakukan efisiensi dan mulai fokus pada kebutuhan pokok untuk membentuk kondisi finansial yang lebih stabil.

Apabila pengeluaran untuk latte factor ini bisa dikontrol dan diminimalisir, tentu ada potensi dana yang bisa ditabung untuk Down Payment properti impian atau diinvestasikan di instrumen lainnya.

Editor : Maria L. Martens
KOMENTAR