ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Menunggu Beroperasinya LRT

Jumat , 10 Mei 2019 | 14:57
Menunggu Beroperasinya LRT
Proyek LRT (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan angkutan massal Lintas Rel Terpadu (LRT) mulai beroperasi setelah disetujui oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian atas hasil pemeriksaan standar prosedur pemeriksaan pengoperasian dan perawatan sarana.

"Jadi saat ini sedang menunggu hasil pertemuan antara Dishub dengan Dirjen Perkeretaapian terkait permintaan konfirmasi pihak Dishub, atas hasil pemeriksaan SOP, pengoperasian dan perawatan sarana," kata Anies Auditorium Gedung PKK Melati Jaya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (10/05).

Setelah itu Dishub rencananya akan mengeluarkan rekomendasi teknis sebagai syarat nanti dari Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk bisa mengeluarkan izin bagi LRT. Kemudian surat penugasan dari PT Jakarta Propertindo (Jakpro) kepada LRT Jakarta yang khusus terkait sarana saja serta surat yang ditandatangani oleh Jakpro dan LRT Jakarta.

"Sehubungan dengan diberlakukannya imbreng, sarana itu harus dilakukan, jadi untuk nanti izin operasi sarana itu masih dibutuhkan, satu IMB untuk seluruh stasiun yang saat ini sedang diurus," kata Gubernur.

Kemudian izin pembangunan yang harus diajukan Jakpro kepada gubernur, setelah terbitnya izin usaha prasarana dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) itu. Setelah itu selesai maka tinggal Perjanjian Kerjasama (PKS) ditandatangani.

"Jadi sebenarnya lebih kepada aspek - aspek administratif, aspek administratif ini nampaknya kecil, tapi punya konsekuensi kepada ketertiban kita bila ada masalah, bila di kemudian hari ditemukan hal yang tidak benar," kata Anies.

Hunian dekat LRT, ditengarai memang lebih menuai keuntungan. Dari segi investasi, misalnya, capital gain properti yang berada di jalur LRT tentunya akan jauh lebih tinggi dibanding lokasi umum lainnya. Kenaikannya secara normal sekitar 15% per tahun. Dan tak menutup kemungkinan bisa lebih besar lagi apabila Pemerintah sudah resmi menaikkan pajak kendaraan bermotor. Sehingga memaksa orang untuk naik transportasi umum. Dari pangsa sewa, konsumen yang berinvestasi properti di titik LRT pun, diproyeksikan mendapat reguler income antara 8% – 12% per tahun dari harga beli.

Tidak hanya dari potensi investasinya, properti yang berada di titik LRT juga membuat penghuninya lebih berhemat. Sebab bujet yang dikeluarkan per bulan untuk pos transportasi harian bakal berkurang.  Untuk menuju kantor atau pusat kota, tak perlu lagi mengeluarkan uang bensin atau ongkos ojek online. Biaya transportasi massal yang ditetapkan Pemerintah pun berkali lipat jauh lebih murah. Kata Happy, ongkos naik LRT diperkirakan hanya sekitar Rp12 ribu saja.

Properti yang dekat LRT juga akan mendekatkan jarak tempuh sekaligus menciptakan efisiensi dalam hal waktu dan tenaga. Dengan segala kepraktisan yang ditawarkan otomatis kualitas dan taraf hidup penghuninya akan meningkat.

Selain itu, tingkat stres juga disebut bakal berkurang karena hunian dekat LRT akan dilengkapi dengan area komersial dan fasilitas umum yang terintegrasi dalam satu kawasan. Tak pelak hal ini akan memudahkan penghuni melakukan aktivitas sehari-hari.

Editor : Maria L. Martens
KOMENTAR