ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Geliat Properti Masih Cemerlang di Awal Tahun

Rabu , 09 Januari 2019 | 09:58
Geliat Properti Masih Cemerlang di Awal Tahun
Sektor properti tak pengaruh situasi politik (Net)

JAKARTA, ARAHPROPERTI.COM - Awal tahun ini disebut memberi angin segar bagi bisnis properti. Terutama untuk masyarakat yang mengincar harga murah. Sekretaris Jenderal Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Ari Tri Priyono mengatakan, yang bakal berkembang cepat adalah rumah tapak yang berukuran kecil, tipe 30 atau 36. Menurutnya, dengan kondisi tahun politik dan perekonomian Indonesia yang tidak menentu, orang yang biasanya menginvestasikan uangnya ke rumah mewah sekarang tidak terlalu tertarik.

Tahun ini pun, Himperra menargetkan membangun rumah murah hingga 120.000 unit, dengan menyasar masyarakat berpenghasilan 3 juta - 5 juta per bulan dengan harga sekitar Rp150 juta. "Kemarin sempat ada kenaikan sekitar 6% - 7% masing-masing wilayah beda-beda, dari harga Rp148 juta menjadi Rp157 juta. Di angka itu kan masih sangat terjangkau, orang yang berpenghasilan Rp3 juta - Rp5 juta masih bisa." tandas Ari.

Senada dengan prediksi Ari, properti segmen menengah ke atas meski cenderung stagnan namun mulai bergerak. Hal ini lantaran pemerintah menjanjikan relaksasi untuk membeli hunian mewah, berupa pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk hunian mewah sejak November tahun lalu.

Adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menjanjikan ambang batas pembelian rumah mewah yang terkena PPnBM naik dari Rp20 miliar menjadi Rp30 miliar saat di Istana Kepresidenan Bogor akhir November 2018. Sebagai gambaran, PMK No.35/2017 tentang Jenis Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Selain Kendaraan Bermotor yang Dikenai PPnBM menyebutkan kelompok hunian mewah antara lain, pertama, rumah dan town house dari jenis nonstrata title dengan harga jual Rp20 miliar atau lebih dan kedua, apartemen, kondominium, town house dari jenis strata title, dan sejenisnya dengan harga jual Rp10 miliar atau lebih. Selain itu, pemerintah juga akan menurunkan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 untuk pembelian hunian mewah tersebut dari 5% menjadi 1%.

Konsultan properti menilai pengembang proyek high-end akan mulai bergerak sejalan dengan rencana pemerintah untuk merevisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai PPnBM tersebut. Apalagi kabarnya aturan tersebut segera diberlakukan.

Di 'pergerakan' lainnya, masyarakat masih giat memburu hunian meski kondisi ekonomi masih bergantung dengan situasi politik jelang Pilpres dan Pileg. Tercatat sedikitnya ada lima lokasi rumah yang paling dicari oleh kalangan konsumen properti di Jakarta. Alasan mereka tertarik untuk membeli rumah di Jakarta selain dekat dengan tempat bekerja, Jakarta juga memiliki berbagai fasilitas publik yang memudahkan warganya.

Penentuan angka ini didapatkan berdasarkan data historical pencarian dari google. Berdasarkan data, ternyata area Bintaro, Jakarta Selatan menjadi tempat favorit yang dicari calon pembeli rumah, rata-rata setiap bulannya ada sekitar 7.200 orang yang berencana untuk membeli rumah di lokasi tersebut.

Harga rata-rata rumah mencapai Rp 18 juta per meter persegi. Diurutan kedua ada Cibubur, Jakarta Timur, rata-rata setiap bulan ada 4.200 orang yang berminat untuk beli rumah.Kemudian harga rumah yang paling dilirik mulai dari Rp 12 juta per meter persegi.

Diurutan ketiga ada kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, setiap bulannya ada sekitar 4.100 orang yang mencari informasi tentang rumah dijual. Untuk harga rumahnya sendiri, rata-rata harga rumah yang dijual adalah Rp 11 juta per meter persegi.

Kemudian diurutan keempat ada Kelapa Gading, Jakarta Utara, rata-rata setiap bulannya ada 3600 orang yang mencari tahu tentang informasi rumah dijual. Sementara untuk rata-rata harga jual rumah di Kelapa Gading mencapai Rp 21 juta per meter persegi.

Di urutan kelima ada Sunter, Jakarta Utara, jumlah pencari rumah di sana mencapai 3.350 orang, untuk harga jual rumahnya sendiri rata-rata mencapai Rp 17 juta per meter persegi.

Trend lainnya, rumah yang berdekatan dengan stasiun juga menjadi incaran. Berdasarkan Rumah.com Property Market Outlook 2019, sebanyak 69 persen responden menyertakan kedekatan huniannya dengan sarana transportasi umum, seperti halte dan stasiun, menjadi pertimbangan utama dalam menentukan hunian yang ideal.

Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan mengatakan pengembang properti residensial sebaiknya menekankan keberadaan sarana transportasi massal pada proyek propertinya untuk menarik minat pencari rumah. “Konsumen tidak mempermasalahkan kondisi rumah baik baru maupun seken, tetapi lebih menekankan kepada pentingnya ketersediaan sarana transportasi umum pada huniannya yang akan dipilihnya tersebut,” ujar ike dikutip dalam risetnya, awal Januari 2019 lalu.

Selain itu, berdasarkan laporan tersebut sebanyak 61 persen responden menyatakan ketersediaan sarana transportasi umum di sekitar rumah sebagai hal yang sangat penting dalam menentukan pilihan hunian. Bahkan, sebanyak 51 persen menganggap jarak 500 meter hingga 1 kilometer dari sarana transportasi umum sebagai jarak ideal dari hunian yang paling banyak dicari oleh konsumen.

Adapun, Jabodetabek masih menjadi daerah primadona bagi para pencari hunian, dengan Jakarta berada pada posisi teratas dan disusul oleh Bogor.

Ike mengatakan hal tersebut selaras dengan data pencarian terbanyak di Rumah.com yaitu properti yang berada di Jakarta. “Di luar Jabodetabek, Bandung menjadi wilayah incaran di luar Jabodetabek, disusul Surabaya dan Semarang,” katanya.

Selain itu, Ike juga mengatakan pengembang disarankan agar lebih fokus pada properti di sunrise area yang menawarkan capital gain dalam jangka panjang akan banyak diminati pembeli. Menurutnya masih terdapat responden yang optimis dan tertarik memanfaatkan properti sebagai alat investasi atau instrument pemasukan kendati pertumbuhan sektor properti dalam beberapa tahun terakhir melambat.

Hal tersebut tercermin dengan sebanyak 44 persen responden memprediksi harga rumah akan meningkat lebih dari 10 persen dalam lima tahun ke depan dan sebanyak 40 persen responden memprediksi apartemen akan mengalamai kenaikan harga yang meningkat di atas 10 persen dalam lima tahun ke depan. “Tidak hanya itu, sebanyak 15 persen dari total responden yang berniat membeli rumah mengaku telah memiliki rumah dan hendak membeli rumah tambahan untuk investasi,” ujarnya.

Editor : Maria L. Martens
KOMENTAR