ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Gejolak Ekonomi Global Tidak Ganggu Bisnis, Begini Penjelasan BTN

Senin , 27 Agustus 2018 | 07:12
Gejolak Ekonomi Global Tidak Ganggu Bisnis, Begini Penjelasan BTN
Direktur Bank BTN, Iman Nugroho Soeko. (Jawa Pos)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk menyatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan dan gejolak ekonomi global tidak mengganggu bisnis perseroan.

"Walaupun kondisi suku bunga acuan meningkat dan adanya gejolak ekonomi global, kami optimistis hingga akhir tahun akan mampu menyokong target laju pertumbuhan kredit di atas rata-rata nasional dengan adanya pendanaan yang kuat," ujar Direktur Bank BTN, Iman Nugroho Soeko di Jakarta, Senin (27/8/2018).

Ia memaparkan per Juni 2018, BTN mencatatkan secondary reserve senilai Rp14,02 triliun. Bank BTN juga memiliki dana pendamping jangka panjang berupa obligasi dan Negotiable Certificate of Deposit (NCD) dengan outstanding per Juni 2018 senilai Rp20,95 triliun.

Dia menambahkan pemerintah dan regulator juga telah membantu menstimulus sektor properti dengan berbagai kebijakan, sehingga menambah kepercayaan perseroan.

Target perseroan ditopang peluang peningkatan kredit dengan adanya relaksasi Loan-to-Value (LTV) dan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) serta penurunan biaya dana dan biaya operasional dari masuknya aliran dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Bank Indonesia misalnya, lanjut Iman, telah memberlakukan relaksasi LTV yang berlaku mulai 1 Agustus 2018. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga merencanakan merelaksasi beberapa ketentuan, seperti mengubah perhitungan ATMR, mendorong pendanaan KPR melalui sekuritisasi, meningkatkan batas pembiayaan dengan agunan, dan meningkatkan koordinasi dengan instansi lain.

Pada semester kedua tahun ini, tambah Iman, Bank BTN pun kembali masuk dalam daftar bank penyalur FLPP yang akan membantu mengurangi beban biaya baik operasional maupun dana. "Dengan berbagai stimulus itu serta kesiapan Bank BTN menggarap berbagai peluang bisnis yang ada, kami meyakini akan tetap mencatatkan realisasi kinerja bisnis sesuai target yang telah ditetapkan sejak awal tahun," katanya.

Iman Nugroho Soeko menambahkan optimisme itu juga didukung angka backlog di Indonesia yang masih tinggi. Selain itu, kredit pemilikan rumah (KPR) masih menjadi opsi utama bagi masyarakat Indonesia untuk me miliki rumah.

Data bank sentral juga menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen atau sebanyak 75,21 persen menggunakan fasilitas KPR untuk membeli properti residensial. Kemudian sebanyak 16,13 persen memilih membeli hunian dengan skema tunai bertahap dan 8,66 persen dengan skema tunai.

"Kami pun terus melakukan berbagai inovasi dan transformasi untuk menggarap peluang bisnis yang ada. Bank BTN juga terus menggelar promosi untuk meningkatkan penyaluran kredit perseroan secara keseluruhan terutama KPR," kata Iman sebagaimana diberitakan Antara.

 

Editor : Farida Denura
KOMENTAR