ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Hindari Kerugian, Bangun Rumah Tahan Gempa

Sabtu , 18 Agustus 2018 | 20:00
Hindari Kerugian, Bangun Rumah Tahan Gempa
Ilustrasi: Arsitektur bangunan rumah tahan gempa. (Padilife)

RUMAH tahan gempa saat ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk menghindari kerugian saat terjadi bencana gempa bumi yang saat ini memang bisa dikatakan lagi ngetrend di Indonesia, entah apakah ini sebuah peringatan dari yang maha kuasa yang jelas korban gempa banyak menanggung banyak kerugian. Seperti halnya gempa yang saat ini terjadi di Lombok, NTB.

Lalu, apa yang dimaksud dengan rumah tahan gempa dan apa saja bahan untuk membuat rumah tersebut?

Menurut Pakar Teknik Bangunan Tahan Gempa dari UI, Hengki Wibowo Ashadi, membangun bangunan rumah atau gedung tahan gempa jelas penting dilakukan untuk menghindari terjadinya korban jiwa dan materi. Bangunan tahan gempa juga tambah dia penting, misalnya untuk reaktor nuklir supaya pas gempa tidak terjadi kebocoran atau gedung komunikasi, ada gempa, langsung ada pemadaman telekomunikasi.

Hengki menambahkan, membuat bangunan tahan gempa sangat bergantung pada kompleksitas struktur dan desain. Hal itu terkait dengan detail sambungan antarstruktur yang menopang bangunan berdiri dengan kokoh. Bila ingin memiliki rumah tahan gempa, pengembangannya jangan macam-macam. Yang terpenting, struktur bangunan berdiri dengan kokoh.

Sebagai contoh, membangun rumah tahan gempa segi empat. Agar tahan gempa empat tiang yang bekerja sama menopang berdirinya bangunan harus ada. Tidak boleh ada satu tiang yang dihilangkan karena alasan desain estetika. Alasannya, bila salah satu tiang dihilangkan, distribusi tekanan bangunan terhadap tiang menjadi tidak seimbang.

Pemanfaatan bambu sebagai komponen utama pembangunan rumah di wilayah rawan gempa sudah saatnya dipikirkan, mengingat daya tahannya terhadap gempa.

Dengan adanya sejumlah wilayah di Indonesia yang rawan gempa dan bencana alam, maka kebutuhan rumah yang tahan gempa sudah mendesak.

Bangunan tahan gempa perlu memanfaatkan material-material lokal di daerah yang telah digunakan secara turun-temurun selama berabad-abad. Terdapat kecenderungan sebagian masyarakat menginginkan konstruksi rumah dari bahan batu bata dan beton.

Namun, kondisi keuangan yang terbatas menyebabkan kualitas bangunan berbahan bata itu kerap memiliki kualitas rendah, sehingga rawan ambruk saat gempa. Oleh karena itu, kondisi trauma gempa itu merupakan momentum untuk mengarahkan arsitektur kota yang sesuai dengan kearifan lokal.

Di Jepang, dinding bangunan dan rumah tinggal memanfaatkan lapisan kertas dan bambu sebagai material utama. Kearifan lokal yang tersebar di sejumlah wilayah perlu didata, dipelajari, dan disebarluaskan agar menjadi salah satu acuan bagi masyarakat di daerah rawan gempa dalam membangun hunian yang lebih aman.

Meski demikian, tidak dipungkiri bahan material lokal memiliki harga yang mahal akibat pasokan bahan baku yang sedikit. Kendala lain, tukang atau pekerja bangunan yang memahami struktur bangunan tradisional semakin langka. Diperlukan strategi untuk mengatasi kendala pemanfaatan material lokal.

Editor : Farida Denura
KOMENTAR