ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Ketatnya Bisnis Hunian Menjaring Ekspatriat

Senin , 05 November 2018 | 12:09
Ketatnya Bisnis Hunian Menjaring Ekspatriat
Persaingan bisnis hunian bagi kalangan ekspatriat (Net)

JAKARTA, ARAHPROPERTI.COM - Geliat apartemen yang menyasar para ekspatriat, makin kompetitif. Lokasi yang ditawarkan pun, menjadi faktor utama para warga asing menentukan pilihannya. Beberapa daerah ternyata mengalami pengurangan jumlah penyewa apartemen dari kalangan ekspatriat. Misalnya, jumlah ekspatriat yang tinggal di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan dirasakan mengalami penurunan, sehingga pasar sewa di hunian elit tersebut juga tertekan.

Menurut Karuna Murdaya, Direktur PT Central Cipta Murdaya, penurunan jumlah ekspatriat di Pondok Indah juga bisa diakibatkan ketatnya persaingan penyediaan hunian bagi ekspatriat oleh pengembang di koridor Jakarta Selatan. "Dari okupansi, lihat saja Pondok Indah Golf. Dulu selalu 100% occupied, tapi sekarang ini sedikit vacant," ujar Karuna.

Saat ini pun, lanjutnya, banyak bermunculan proyek premium baru yang bisa dijadiakan opsi baru hunian bagi ekspatriat, seperti di kawasan Pakubuwono dan Gandaria.

Namun, tidak seluruh penjualan produk-produk CCM mengalami kelesuan. Penyerapan pasar untuk produk perumahan di atas Rp 1 miliar memang melambat tetapi properti dibawah Rp 1 miliar terutama yang dibawah Rp 600 juta masih cukup ciamik.

"Jadi hingga kuartal III ini, kondisi properti kami tergantung lokasi juga. Ada proyek yang sangat jelek dan ada yang bagus. Jeleknya dari segi pembelian, tetapi dari sewa di mall ada yang sukses ada yang biasa aja dan ada yang susah. Contoh yang bagus ada puri indah," kata Karuna lagi.

Namun, Direktur grup perusahaan yang menaungi pengembang kawasan Pondok Indah, PT Metropolitan Kentjana Tbk, tersebut tidak mau menyebutkan secara detail angka penurunan ekspatriat yang mulai hengkang dari Pondok Indah.

Karuna mengatakan hal tersebut mengakibatkan pasar sewa apartemen menurun dan harga sewa semakin tertekan. Investor spekulan yang dulu mewarnai pasar properti pada tiga tahun yang lalu semakin menarik diri dari pasar kawasan itu. "Spekulatifnya itu tidak sekuat dulu untuk investasi karena yield yang ditawarkan terlalu rendah, karena itu sekarang pasarnya buat orang yang butuh dan orang yang butuh bukan yang kaya, iseng aja beli 10 unit," papar dia.

Editor : Maria L. Martens
KOMENTAR