ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Kayu Anti Rayap dan Alternatif Penggantinya

Rabu , 15 Mei 2019 | 11:43
Kayu Anti Rayap dan Alternatif Penggantinya
Kayu anti rayap (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Kayu adalah salah satu material yang banyak digunakan dalam pembuatan furniture, bangunan, dan elemen pengisi interior. Kayu mendominasi pembuatan furniture lantaran menciptkan keindahan dan membuat hangat pada tiap ruangan. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa kayu rentan terhadap serangan rayap sehingga menyebabkan furniture menjadi lapuk dan keropos. Tetapi ada beberapa jenis kayu yang tidak mudah rapuh meski diserang dalam kurun waktu yang lama. Beberapa jenis kayu yang tahan lama terhadap rayap tentu membuat perabotan menjadi lebih awet dan tahan lama. Kayu-kayu tersebut seperti kayu jati, kayu ulin, merbau, sengon laut dan kayu laut.

Kayu Jati

Pohon jati terkenal dengan kelebihannya yang anti rayap karena itu sering digunakan sebagai bahan pembuat furniture. Tekstur yang kuat membuat perabotan berbahan jati menjadi tahan akan serangan rayap. Jika ada beberapa perabotan yang tidak menggunakan jati sebagai bahan dasar, ada beberapa cara untuk menghindari datangnya rayap. Furniture nonjati biasanya menggunakan mahoni sebagai penggantinya, sebelum difinishing rendamlah terlebih dahulu pada larutan obat anti rayap kurang lebih sehari. Lalu jemur dibawah sinar matahari dan tunggu hingga kering.  Selanjutnya tahap terakhir baru bisa dilaksanakan yaitu finishing. Furniture dijamin lebih awet dan tahan atas serangan berbagai jenis rayap.

Kayu Merbau

Kayu Merbau biasanya dijadikan alternatif pembanding dengan kayu jati. Merbau termasuk jenis kayu yang cukup keras karena itu tahan terhadap serangga termasuk rayap. Pohon Merbau cocok pada hutan hujan tropis. Warna kayunya coklat kemerahan dengan tekstur serat garis terputus-putus. Pohon Merbau bisa ditemukan di Irian Jaya Papua.

Kayun Sengon

Kayu Sengon biasa disebut sika atau selawaku oleh orang Maluku. Sedangkan orang Papuan menyebutnya bae, bai, wai, dan wahogon. Kayu sengon memiliki pertumbuhan tercepat didunia dan mampu mencapai ketinggian hingga 7 m. Kayu sengon biasanya diproduksi menjadi peti-peti pengemas, papan partikel, dan papan lapis.

Kayu Ulin

Kayu ulin berasal dari Pulau Kalimantan yang merupakan kayu terkuat dari habitat aslinya. Pohon Ulin memiliki tinggi hingga 35 m dan panjang batang 5-20 m, diameternya antara 60-80 cm bahkan mencapai 50 cm. Pohon Ulin tumbuh berpencar atau mengelompok di dalam hutan, ulin tumbuh di atas permukaan laut yang datar sampai miring. Kulit pohon ulin licin dan berwarna kuning atau kelabu muda, tekstur kayunya pun kasar bahkan sangat keras sehingga sulit dipotong namun memiliki bau yang aromatis. Kayu Ulin diproduksi tidak hanya di Kalimantan, kawasan Asia tenggara, Bangka Belitung, Sumatera, Kepulauan Sulu, Sabah, Sarawak bahkan Pilipina juga mengolah produksi kayu ulin. Akibat sering diekploitasi di berbagai daerah, populasi kayu ulin pun terancam punah. Saat ini kayu ulin menjadi flora yang dilindungi oleh negara.  Pohon Ulin bisa tumbuh di daerah yang kering meskipun cenderung lebih suka pada daerah yang lembab. Selain itu ulin tumbuh baik di tanah dengan resapan air. Ulin tidak membutuhkan banyak cahanya hingga umur 3 tahun, selebihnya ulin akan membutuhkan cahaya sedikit demi sedikit. Kelebihan kayu Ulin seperti yang dielaskan yaitu tahan terhadap serangan rayap serta serangga penggerek. Kayu Ulin biasanya digunakan untuk konstruksi jembatan, bangunan yang terendam air, bantalan rel kereta pai, dermaga, bahan sirap atap dan masih banyak lagi. Kayu ulin bisa menumpulkan alat-alat karena teksturnya yang keras. Namun jika dijadikan sebuah furniture akan menghasilkan perabotan yang tahan lama.

Bahan Alternatif Kayu Yang Anti Rayap

Ketertarikan orang terhadap kayu sebagai bahan material untuk sebuah rumah tak dapat dipungkiri. Keunikan dari warna maupun tekstur kayu dapat menimbulkan suasana yang alami serta hangat. Namun karena semakin terbatasnya lahan atau hutan yang menjadi sumber atau tempat kayu dihasilkan, membuat kayu saat ini semakin langka dan mahal harganya. 

Sebelumnya, apakah anda sudah mengenal conwood? Atau HPL (High Pressure Laminate)? Kedua material ini merupakan material yang inovatif sebagai penganti kayu. Walaupun tidak terbuat dari kayu alami, tekstur dan warnanya menyerupai dengan kayu pada umumnya. Dan anda tidak perlu khawatir lagi mengenai serangan rayap yang biasa merusak pada kayu umumnya. Yuk kita kenal lebih dekat tentang material-material inovatif ini

Conwood (Concrete Wood)

Material penggati kayu ini terbuat dari 70% semen dan 30% serat selulosa yang ramah lingkungan. Kedua bahan tersebut dibuat seperti adonan yang kemudian disusun berlapis-lapis menjadi lembaran dengan berbagai ukuran panjang, lebar dan ketebalannya. Karena Conwood sebagai material yang inovatif sebagai untuk pengganti kayu, karena permukaan material ini sama seperti tekstur kayu umunnya, material ini cocok untuk diaplikasikan sebagai di lantai atau di dinding rumah anda. Anda juga tidak perlu khawatir lagi mengenai serangan rayap yang pada umumnya merusak panel kayu biasa, bahan ini juga tahan cuaca sehingga cocok untuk diaplikasikan di luar rumah. Conwood juga memiliki bahan yang tahan terhadap api.

HPL (High Pressure Laminate)

HPL atau High Pressure laminate merupakan salah satu material yang digunakan untuk finishing seperti produk mebel dan permukaan interior. HPL memiliki bermacam ragam corak dan warna permukaan yang digunakan. Dan corak yang paling banyak digunakan yaitu corak kayu. HPL juga memiliki tekstur sehingga terlihat sama seperti panel kayu. HPL merupakan bahan yang anti air dan relatif murah. Proses pemasangannya terbilang mudah dan praktis karena hanya dilem di bagian multipleks lalu di tempel. HPL juga cocok untuk furniture dengan tampilan yang minimalis dan modern. Namun sangat disayangkan, jika proses pengeleman HPL tidak sempurna, lapisan HPL akan sering lepas. Secara fisik HPL sangat keras, tingkat flexibilitasnya juga rendah sehingga mudah patah.

Vinil (Vinyl)

Vinil merupakan jenis pelapis lantai atau dinding yang relatif paling murah ketimbang pelapis lainnya. Vinil terbuat dari polimer sintetik yang dipercantik dengan pigmentasi dan penambahan warna. Permukaan vinil lebih halus ketimbang lantai kayu. Vinil juga dilapisi dengan kain dan busa sehingga terasa nyaman ketika dipijak. Vinil juga memiliki bermacam motif salah satunya motif kayu yang digemari untuk dekorasi rumah modern. Sayangnya material vinil ini memiliki sisi buruknya. Vinil menggunakan bahan PVC (Polyvinyl Chloride) yang mampu melepaskan VOC (Volatile organic compounds) ke udara yang dapat menganggu kesehatan tubuh bagi penghuninya. Dan material ini dapat rusak jika terkena benda tajam atau pada saat memindahkan furnitur yang berat.

Keramik

Di jaman cetak digital saat ini, sudah memungkinkan untuk mencetak keramik dengan tampilan yang mirip dengan kayu. Bukan hanya tampilannya saja, namun teksturnya juga mirip. Lantai dengan tampilan kayu ini dapat memberi suasana natural dan sejuk di ruangan anda.

WPC (Wood Plastic Composite) atau Kayu Komposit

WPC biasa digunakan untuk WPC atau dikenal kayu komposit merupakan material campuran plastik dan kayu. Kayu komposit terbuat dari 60% Serbuk kayu dan 40% Serat plastik. Bahan kayu komposit ini juga tahan terhadap cuaca sehingga material ini tahan lama.  Kayu komposit ini juga sering digunakan di sekitar kolam renang atau taman. Secara visual dan tekstur, kayu komposite ini mirip dengan kayu biasanya dan harganya juga terbilang murah dari pada kayu solid
Kayu Komposit juga diklaim sebagai bahan yang ramah lingkungan, karena bahan ini memanfaatkan limbah kayu seperti hasil dari proses penghancuran dan penghalusan kayu asli.

Nah, sekarang anda tidak perlu khawatir lagi untuk mendekorasi rumah dengan nuansa kayu. Walaupun harga kayu semakin meningkat dan langka, anda masih dapat merasakan kesan alami dan kehangatan didalam ruangan anda dengan bahan alternatif diatas. Selain corak dan teksturnya beragam, material pengganti kayu tersebut juga murah harganya.

 

Editor : Maria L. Martens
KOMENTAR