ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Struktur Rumah Adat Sunda, Tinggi Resapan Air dan Sarana Ventilasi

Kamis , 11 Juli 2019 | 17:20
Struktur Rumah Adat Sunda, Tinggi Resapan Air dan Sarana Ventilasi
Rumah adat Sunda (Net)

JAKARTA, ARAHPROPERTI.COM - Setiap suku memiliki filosofinya sendiri dalam membuat sebuah bangunan, karna filosofi bangunan menonjolkan rasa dalam membangun. Rumah bagi masyarakat Jawa Barat selain berfungsi untuk tempat tinggal juga sebagai tempat aktifitas keluarga dalam berbagai segi kehidupan yang sarat dengan nilai – nilai tradisi. Bahkan berdasarkan hal tersebut maka peranan rumah menurut masyarakat orang Sunda adalah tempat diri jeung rabi (keluarga dan keturunan), serta tempat memancarnya rasa, karsa dan karya.

1. Rumah adat sunda berbentuk rumah panggung dengan filosofi manusia tidaklah hidup di alam langit atau alam kahyangan, dunia atas. Dan juga tidak hidup di dunia bawah. Maka dari itu manusia harus hidup dipertengahannya dan tinggal di tengah-tengah. Konsep tersebut dituangkan dalam bentuk rumah panggung sebagai realisasi dari konsep pemikiran tersebut secara nyata.

2. Bentuk rumah panggung bagi masyarakat Sunda memiliki makna yang mendalam tentang pola keseimbangan hidup dimana harus selarasnya antara hubungan vertikal (interaksi diri dengan Tuhan) dengan hubungan horizontal (interaksi diri dengan lingkungan alam semesta) manifestasi ini nampak dari bangunan rumah yang tidak langsung menyentuh tanah.

3. Rumah dalam bahasa sunda adalah Bumi (bahasa halus), dan bumi adalah dunia. Ini mencerminkan bahwa rumah bukan hanya tempat untuk tinggal dan berteduh, tapi lebih dari itu.

Nilai filosofis yang terkandung didalam arsitektur rumah tradisional Sunda secara umum, nama suhunan rumah adat orang Sunda ditujukan untuk menghormati alam sekelilingnya. Ditilik dari material rumah adat Sunda itu sendiri terkesan tipis dan ringkih tentu hal ini tidak mungkin dipakai untuk tempat perlindungan layaknya sebuah benteng perlindungan dari peperangan antar kampung, jadi masyarakat suku Sunda sangat menjunjung tinggi perdamaian dan kerukunan antar umat manusia. Rumah bagi orang Sunda semata sebagai tempat perlindungan dari hujan, angin, terik matahari dan binatang.
Bentuk Rumah Sunda
Pada umumnya rumah adat sunda disebut dengan rumah panggung dinamai demikian karena posisi rumah melayang di atas permukaan tanah yang diberi tumpuan terbuat dari batu kali dan ditopang oleh beberapa pondasi tumpuan tersebut disebut wadasan, titinggi, umpak, tatapakan dengan ketinggian sekitar 40 s/d 60 cm. Ruang tanah dangan pondasi rumah disebut kolong imah (kolong rumah), kolong rumah dibuat sedemikian rupa dengan maksud tertentu diantaranya untuk menyimpan kayu bakar dan paranje untuk ternak ayam dan sebagainya.
Seperti rumah modern, rumah adat juga biasanya terbagi menjadi beberapa ruang yang fungsinya berbeda. Pada rumah adat suku Sunda, ada tiga pembagian ruang yang biasanya jadi pakem saat membangun sebuah rumah, yaitu:

1. Bagian Hareup atau Bagian Depan Rumah

Fungsinya mirip dengan teras dan kamar tamu saat ini, yaitu sebagai lokasi menjamu tamu lelaki dan juga sebagai tempat mereka tidur. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada tamu dan juga mencegah tamu masuk ke daerah lain rumah di mana ada wanita di rumah tersebut.

Pada rumah yang masih tradisional, bagian teras depan yang disebut emper ini tidak pernah diberi perabot semacam tempat duduk, atau meja dan kursi. Jadi, para tetamu dan lelaki yang menjamu mereka semua duduk di lantai atau tikar yang digelar. Kini, ada beberapa rumah yang telah melengkapi teras ruang tetamu dengan meja dan kursi.

2. Bagian Tengah Rumah ( Tengah Imah )

Bagian ini dibatasi dengan dinding, untuk memisahkan dari bagian depan rumah. Ada beberapa bilik atau pangkeng yang menjadi ruang penghuni rumah beristirahat atau tidur. Namun pangkeng tak absolut ada, karena tergantung pada keinginan dan kemampuan si pemilik rumah. Demikian juga sebuah bagian di tengah rumah yang fungsinya semacam ruang keluarga atau ruang para anggota keluarga berkumpul.

3. Bagian Belakang Rumah ( Tukang )

Fungsinya sebagai dapur dan goah tempat memasak hidangan para penghuni rumah. Bagian rumah ini terlarang bagi lelaki untuk memasukinya, karena ini bagian rumah spesifik untuk wanita. Tabu lelaki memasukinya kecuali darurat. Tamu wanita pun diterima di bagian belakang rumah ini.

Untuk hal ini, tampak sekali disparitas perlakuan antara wanita dan lelaki pada masyarakat tradisional. Selain itu, pembedaan ini juga seakan menunjukkan tugas dan fungsi masing-masing yang berbeda. Lelaki ada di Hareup, sebagai pemimpin dan wanita tempatnya di Tukang sebagai pelayan dan perawat seluruh penghuni rumah.

Jenis-jenis rumah sunda:

1. Julang ngapak (burung yang sedang mengepakkan sayap).

Bentuk atap julang ngapak adalah bentuk atap yang melebar dikedua sisi bidang atapnya, jika dilihat dari arah muka rumahnya bentuk atap demikian menyerupai sayap burung julang yang sedang mengepakkan sayapnya. Pada puncak atap terdapat capit hurang atau cagak gunting yang berfungsi secara teknis untuk mencegah air merembes ke dalam dan sebagai lambang kesatuan antar rumah dengan alam jagat raya berdasarkan masyarakat orang Sunda, penutup atap dibuat dari daun alang-alang (tepus) atau rumbia dan ijuk yang diikat dengan tali dari bambu (apus) ke bagian atas dari rangka atap. Bentuk-bentuk atap demikian dapat dijumpai di kabupaten Tasikmalaya (kampung Naga) dan Kampung Dukuh, Kuningan dan tempat-tempat lain di Jawa Barat. Salah satu gedung yang menggunakan model atap julang ngapak adalah Gedung Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung.

2. Tagog Anjing (sikap anjing yang sedang duduk)

Bentuk rumah tagog anjing menyerupai anjing yang sedang duduk. Bentuk atap ini memiliki dua bidang atap yang berbatasan pada garis batang suhunan (segi tiga atap), bidang atap bagian depan lebih lebar dibanding dengan bidang atap bagian belakang atau bidang lainnya, serta merupakan penutup ruangan, sedangkan atap lainnya yang sempit memiliki sepasang sisi yang sama panjang dengan batang suhunan bahkan batang suhunan itu merupakan puncaknya, pasangan sisi (tepi) bidang sebelah depan sangat pendek bila dibandingkan dengan panjang sisi bidangsebelah belakang suhunan. Bentuk atap rumah tagog anjing ini pada saat sekarang banyak ditemui di rumah adat Kampung Dukuh Kabupaten Garut dan tempat-tempat peristirahatan, bungalow maupun hotel.

3. Badak Heuay (sikap badak yang sedang menguap)

Bentuk rumah dengan model atap badak heuay sangat mirip dengan atap tagog anjing. Perbedaanya hanya pad bidang atap belakang, bidang atap ini langsung lurus ke atas melewati batang suhunan sedikit, bidang atap yang melewati suhunan ini dinamakan rambu. Daerah-daerah di Jawa Barat masih banyak ditemukan pemukiman penduduk yang masih menggunakan bahan tradisional dengan bentuk atap badak heuay salah satunya didaerah Sukabumi.

4. Jolopong (terkulai)

Suhunan jolopong dikenal juga dengan sebutan suhunan panjang, di kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang pada era tahun 30 an atap ini disebut dengan suhunan Jepang. Jolopong adalah istilah Sunda artinya tergolek lurus, bentuk jolopong merupakan bentuk yang cukup tua sekali karena bentuk ini terdapat pada bentuk atap saung (dangau). Bentuk jolopong memiliki dua bidang atap saja, kedua bidang atap ini dipisahkan oleh jalur suhunan ditengah bangunan rumah. Kebalikan jalur suhunan itu sendiri merupakan sisi yang sama atau rangkap dari kedua bidang atap. Batang suhunan sama panjangnya dan sejajar dengan kedua sisi bawah bidang atap yang bersebelahan. Sedangkan pasang sisi lainnya lebih pendek dibanding dengan suhunan dan memotong tegak lurus kedua ujung suhunan itu, dengan demikian di kedua bidang atap itu berwujud dua buah bentukan persegi panjang. Sisi-sisinya bertemu pada kedua ujung suhunan. Pada tiap ujung batang suhunan, kedua sisa atap pendek membentuk sudut pundak dan apabila kedua ujung bawah kaki itu dihubungkan dengan suatu garis imajiner akan terwujudlah segitiga sama kaki Bentuk rumah semacam ini dapat dijumpai di Kampung Dukuh Kabupaten Garut.

5. Parahu Kumureb (perahu tengkurap)

Bentuk atap ini memiliki empat buah bidang atap, sepasang bidang atap sama luasnya, bentuk trapesium sama kaki, kedua bidang atap lainnya berbentuk segitiga sama kaki dengan kedua titik ujung suhunan merupakan titik-titik puncak segitiga itu. Kaki-kakinya merupakan sisi bersama dengan kedua bidang atap trapesium. Pada bentuk ini memiliki dua jure atau batang kayu yang menghubungkan satu diantara ujung batang kepada kedua sudut rumah, secara landai sehingga terbentuknya satu bidang atap segitiga. Sisi bidang atap segitiga inilah yang dijadikan sebagai sebagian depan rumah. Bila dilihat bentuk atap parahu kumureb ini dari samping mirip dengan jubleg (lesung) yang nangkub (telungkup). Bentuk rumah seperti ini dapat dijumpai di Kampung Kuta Kabupaten Ciamis.

Struktur Rumah Sunda

Arsitektur bangunan tradisional Sunda yang paling khas adalah imah panggung, yaitu rumah yang memiliki kolong di bawah lantai sekira 40-60 cm. Panggung berasal dari kata pang dan agung artinya yang diletakkan paling tinggi atau tertinggi. Dalam pandangan Orang Sunda, rumah merupakan lambang wanita, karena seluruh aktivitas di dalamnya dilakukan oleh wanita. Panggung merupakan bentuk yang paling penting bagi masyarakat Sunda, dengan suhunan panjang dan jure. Bentuk panggung yang mendominasi sistem bangunan di Tatar Sunda mempunyai fungsi teknik dan simbolik. Secara teknik rumah panggung memiliki tiga fungsi, yaitu: tidak mengganggu bidang resapan air, kolong sebagai media pengkondisian ruang dengan mengalirnya udara secara silang baik untuk kehangatan dan kesejukan, serta kolong juga dipakai untuk menyimpan persediaan kayu bakar.

Editor : Maria L. Martens
KOMENTAR